• Adikku Inspirasiku

    Date: 2010.09.16 | Category: Academic | Response: 0

    Aku mempunyai seorang adik laki-laki bernama Arya, anak terakhir di keluarga kami. Ia memang istimewa, tak hanya anak terakhir, ia juga satu-satunya anak laki-laki di keluargaku. Saat ini umurnya adalah 10 tahun. Ia duduk di bangku kelas 5 SD. Meskipun memiliki predikat sebagai anak bungsu, ia tidak bersifat kekanak-kanakkan. Bahkan guru-guru di sekolahnya pun juga berkata demikian. Mereka bilang Arya itu jauh lebih dewasa dibandingkan umurnya. Bukan sesuatu yang buruk menurutku. Justru sebaliknya, itu merupakan sifat yang baik. Karena ketika ia bersifat dewasa, ia akan lebih bisa memahami situasi dan kondisi di lingkungan ia berada.

    Suatu saat, ada temannya yang masih merasa kesulitan menerima pelajaran dari gurunya. Dengan sabar, ia mengajari temannya itu. Kebetulan itu adalah saat pelajaran matematika, pelajaran favorit adikku, meskipun kita tahu matematika tidak banyak disukai oleh orang. Karena sesungguhnya matematika hanya disukai oleh orang yang tidak mudah menyerah. Hal itu tercermin dari pola pikir kita dalam menemukan jawaban yang benar ketika menghadapi soal. Apabila dibandingkan dengan orang yang mudah menyerah, ia pasti tak akan mau mengutak-atik soal yang sulit sampai ke akarnya.

    Selain itu, saat teman-temannya yang lain suka usil dan saling menjaili, ia tidak ikut-ikutan. Bahkan kadang ia yang suka mengingatkan temannya itu untuk tidak nakal. Untuk ukuran anak kecil bagiku itu sudah cukup hebat karena tidak ikut-ikut teman. Berarti ia sudah mempunyai prinsip yang benar.

    Setidaknya itulah kisah yang diceritakan oleh guru-guru di sekolahnya. Aku dan keluargaku pun merasa takjub mengetahui adikku yang ternyata dapat bersifat demikian, karena ia jarang bercerita mengenai kehidupan sekolahnya.

    Banyak sifat dan sikapnya yang menginspirasiku untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mulai dari bersikap dewasa, saling menolong, dan juga saling mengingatkan. Lagipula, kita tidak harus melirik orang-orang besar untuk memperbaiki diri, mulailah dari orang-orang di sekitar kita. Setelah kita sanggup, barulah mencontoh dari orang-orang besar untuk menjadi pribadi yang dapat menginspirasi orang lain.

  • Inilah yang Pantas Kudapatkan

    Date: 2010.09.16 | Category: Academic | Response: 0

    Ketika aku SD, aku ingin sekali melanjutkan sekolahku di SMP 19, sekolah negeri unggulan sekaligus favorit di Jakarta Selatan. Untuk itu, aku harus memiliki nilai General Tes yang baik. Ketika aku sudah melewati tes tersebut, yang bisa kulakukan hanyalah berdoa semoga mendapatkan hasil yang baik.

    Hari demi hari sudah berlalu, akhirnya pengumuman nilai pun sudah keluar. Aku harus kembali ke sekolah untuk melihat hasilnya. Saat aku sampai, sekolah ternyata sudah ramai sekali. Aku bergegas ke ruang guru, tempat di mana aku bisa melihat nilainya. Wuu, ramai sekali, sampai berdesak-desakkan. Maka dari itu, aku bertanya pada guruku Pak Muhidin yang sedang berada di tengah kerumunan. Dan beliau kemudian memberi tahu bahwa aku diterima di SMP 19. Wah, betapa senangnya hatiku mendengar hal itu. Berarti impianku tercapai!

    Alhamdulillah, ternyata permohonanku dikabulkan. Namun, ada salah seorang temanku, Shalwa yang katanya diterima di SMP 29. Bukannya bagaimana, tapi aku dan yang lain merasa kurang yakin kalau Shalwa diterima di SMP 29. Seharusnya ia bisa mendapatkan yang lebih baik. Untuk memastikan hal itu, kami, aku, Shalwa, dan Fiki pergi ke SMP 11 sebagai pusatnya nilai-nilai. Di sana Shalwa mencari namanya di papan nilai. Begitu juga dengan aku, niatku hanya untuk iseng-iseng. Ya, dengan menggunakan nomor ujianku, aku cari namaku…

    Ya, ketemu. Aku meluruskan ke bagian kolom yang menunjukkan di mana aku diterima. Perlahan kucocokkan namaku dengan sekolahku. Saat pertama kali kulihat, aku melihat tulisan ”diterima di SMP N 11”, saat kubaca dan kuluruskan pada kedua kalinya, kali ini aku yakin aku lebih teliti, aku tetap mendapatkan hasil yang sama, sampai ketiga kalinya aku memastikan bahwa aku memang diterima di SMP 11.

    Teryata apa yang Pak Muhidin katakan bukanlah sebuah kebenaran yang bisa kuandalkan. Tahukah betapa kecewanya aku melihat papan yang ada di SMP 11 waktu itu? Aku sangat sangat kecewa. Andai saja, Pak Muhidin langsung memberi tahu bahwa aku diterima di SMP 11, pasti aku tidak akan merasakan kekecewaan yang begitu dalam seperti ini. Tapi apa boleh dikata, daripada mengandai-andai, akan lebih baik jika aku memandang hidupku di masa mendatang. Aku kembali ke SD untuk menunggu dijemput. Dan saat itu, aku berusaha menguatkan hatiku bahwa 11 itu bukanlah sekolah yang buruk. Tetapi, lama-lama aku tidak kuasa menahan air mataku yang ingin keluar dari kedua mataku. Aku menangis, semua temanku menatapku heran. Tak ada satupun dari mereka yang tahu kenapa, kecuali Shalwa dan Fiki.

    Aku menangis, sampai Pak Muhidin datang menghampiriku, aku hanya bilang apa yang ada di otakku. Aku berusaha mengeluarkan pendapatku tentang dia, bagaimana ini bisa terjadi, kenapa Pak Muhidin bilang aku masuk SMP 19, itulah hal terbesar yang bisa membuatku menangis saat itu. Tapi Pak Muhidin mengatakakan bahwa, SMP 11 itu juga unggulan. Apa yang mau kamu dapat di 19 itu juga bisa kamu dapat di 11, kamu mau ambil kelas aksel? Di SMP 11 juga ada. Kamu nggak perlu takut sekolah di sana. Kira-kira begitulah yang Pak Muhidin katakan. Perkataan itu bagiku tidak terlalu bermanfaat. Walaupun sedikit menenangkanku, karena aku pun tidak tahu, apa yang ingin kucapai sampai-sampai aku sangat terobsesi masuk ke SMP 19.

    Jadi, mungkin tak masalah, sekali-kali aku berbeda dengan kakakku. Berkat masuknya aku menjadi bagian dari warga SMP 11 yang baru, aku bisa mensyukuri apa yang ada. Selain itu, aku juga belajar bahwa apa yang kuinginkan belum tentu kudapatkan, sekalipun bagiku usaha yang kukeluarkan sudah cukup. Tapi Allah Maha Tahu, Allah tahu apa yang baik dan apa yang buruk untuk kita. Yang kita tahu disebut dengan takdir. Jangan dikira takdir adalah sesuatu yang mutlak, kita bisa, bahkan diharuskan untuk mengubah takdir kita sendiri. Karena ingat, Allah hanya ingin mengabulkan permohonan hamba-Nya apabila sesuatu yang kita inginkan itu pantas untuk kita. Jadilah pribadi yang pantas untuk diberi kenikmatan, begitulah kalimat yang kudengar dari Mario Teguh, seorang motivator yang sedikit banyak mengubah cara berpikirku.

    Jadi, dengan diterimanya aku di SMP 11 sudah mengubahku menjadi orang yang bisa menerima apa adanya dan bila aku tidak mendapatkan yang aku mau, aku tidak akan mudah marah. Sekarang, tidak mendapatkan apa yang kuinginkan bukanlah hal yang sangat menakutkan, aku terkadang merasakan itu. Aku pun bersyukur, semakin banyak kejadian, semakin kuat hatiku. Tapi bukan berarti aku tak pernah mendapatkan yang aku mau. Apabila aku mau, aku akan berusaha keras mendapatkannya.

    Sekarang aku justru sangat bersyukur pada Allah karena aku dimasukkan ke SMP 11. Saat itu perasaanku masih sangat terpukul, aku ingin cepat-cepat keluar dari SMP 11 dan jalan satu-satunya adalah mengikuti program akselerasi, aku hanya perlu menempuh SMP dalam waktu dua tahun. Alhamdulillah, aku lolos seleksi. Sejak saat itu, pola pikirku berubah…

    Kini, teman-teman kembali menatapku heran, tetapi bukan lagi karena aku menangis, melainkan karena aku berhasil mendapatkan yang kuinginkan, yaitu menjadi mahasiswa saat usiaku masih kurang dari 15 tahun.

Most Popular

Recent Comments